My Precious Memory

By Vie Achmad

“…Nadie sabe en realidad, que es lo que tiene.
Hasta que enfrenta el miedo de perderlo para siempre…”

Chayanne,

( si nos quedara poco tiempo)

Subhanallah, waktu berlalu begitu cepat. Serasa baru kemarin ane diantar oleh Bapak untuk daftar jadi mahasiswa baru di STT Telkom. Tapi hari ini, ane sudah menjadi job seeker dengan gelar ST dari IT Telkom. Sudah menjadi sunatullah, jika ada sebuah pertemuan maka pasti akan ada perpisahan. Di saat-saat seperti ini, ane jadi senang mengenang kejadian-kejadian di awal ane masuk ke lingkungan Kampus putih biru. Kenangan yang baru ane rasakan indahnya disaat seperti ini. Sudah terlambatkah? Menurut ane ga’ juga. Karena kata seseorang, kenangan baru akan terasa indah jika sudah berlalu. Ngerti ga’?  Sama, ane juga.

Pikiran ane sering melayang kembali ke peristiwa 5 tahun yang lalu. Saat-saat penuh kenangan di House of Princess, Asrama Putri tercinta. Walaupun ga’ ada satupun princess dan orang keturunan kerajaan disana, tapi para penghuninya berasa menjadi princess. Ane ingat bagaimana sepak terjang ane yang masih dzolim dan jahil disana. Bagaimana ane dengan suksesnya membuat semua senior asrama menangis hanya dengan satu kalimat. Ane juga ingat bagaimana perjuangan para princess ketika ga’ ada air dipagi hari. Kami berjuang gerilya ke kostan teman-teman di sekitar kampus hanya untuk numpang mandi karena harus kuliah jam 7 pagi. Bahkan ada princess yang rela membeli air mineral sebanyak 2 galon khusus untuk mandi. Kalau dulu saat mengalami kejadian ini, rasanya ingin marah aja ke ibu-ibu pengurus asrama. Tapi sekarang? ana bahkan menulis kenangan ini sambil ketawa sendiri. What a perfect memory.

Ane ingat saat pertama kali tinggal di BJS 183. Bagaimana sibuknya mencari kostan yang cukup bagus untuk kami ber-9. Bagaimana repotnya pindahan dan negosiasi dengan ibu kost, bersih-bersih kostan dan syukuran sebelum kami huni, semuanya sangat berkesan. Ane ingat betul bagaimana pertama kali tersentuh tarbiyah, perjuangan dengan teman-teman sebagai aktivis da’wah kampus, dan terjun langsung ke masyarakat bersama sebuah partai da’wah. Semuanya terasa masih sangat segar seakan baru kemarin ane alami.

Bisa dikatakan 4,5 tahun kehidupan di IT Telkom telah banyak mengubah kepribadian ane. Saat-saat sibuk kuliah, pahit-manis berorganisasi, lelahnya terjun langsung mengabdi ke masyarakat, lapang dada dan tenggang rasa saat berbeda pendapat dengan sesama ikhwah, dan tugas-tugas da’wah yang dibebankan kepada ane, semua itu menjadi pelajaran berharga dan menjadikan ane lebih dewasa daripada sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, semua yang telah berlalu menjadi begitu berharga. Dulu ane ga’pernah tahu pasti apa yang sebenarnya ane miliki, sampai ketika ane harus kehilangan semua waktu berharga bersama orang-orang yang sangat istimewa. Orang-orang yang telah Allah siapkan bahkan sebelum ane lulus SMA, untuk menemani ane belajar di kampus tarbiyah ini. Teman-teman di Asrama putri, teman-teman BJS 183, dan semua teman yang bergerak bersama dengan satu tujuan, Allah SWT. Merekalah sesungguhnya milik ane yang paling berharga.

All thanks to Allah, Who has the best scenario of my life.

2 Responses to “My Precious Memory”

  1. putrichairina Says:

    Eka.. eka.. Ternyata dirimu masih mengingat “insiden” di Astri itu, ketika kita masih labil-labil-nya. Maklumlah anak muda..
    Tapi asli! Dulu aq sempat ingin marah sama kamu, ka. Tapi itu dulu.. Waktu aq belum mengerti.
    Dan aq pun menyesal, mengapa tidak berani “bersuara” ketika itu. Tapi walau begitu setidaknya aq sudah melakukan sesuatu setelah “insiden” itu. Karena aq betul2 tidak tega melihat wajah salah satu senior yang tiba-tiba kelabu. Aq masih ingat betul reaksi ketua As3, mba Wuri. Ia langsung terduduk lemas.. Tepat dihadapanku..
    MasyaAllah.. Begitu banyak hal-hal indah yang kita lalui di kampus putih-biru. Bahkan kesalahan2 pun belakangan terlihat indahnya. Setelah kita bisa menuai hikmahnya. Dan kita pun bisa menertawai diri sendiri. Betapa banyak hal bodoh yg dulu sempat dilakukan. Tapi mungkin tanpa “hal-hal bodoh” itu, kita tidak bisa menjadi kita yang saat ini. ^^

  2. noorcalypso Says:

    Yeah.. what a beutiful stupid things…:)

Leave a Reply