Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane ga’ habis pikir. Hampir 5 tahun ane tinggal di Bandung selatan yang notabene didominasi oleh suku sunda, tapi tetap aja ane masih sukses dibuat heran sama keseharian mereka. Ya kebudayaannya, ya bahasanya, ya trend dan modenya, dan hampir semuanya. Ga’ tau deh mau ketawa, nangis, terharu, marah, atau berguling-guling (kaya’ si Ahomiya di dorama “Hotaru no hikari”).
1. Kebiasaan (adat)
Orang sunda punya kebiasaan yang beda dengan orang jawa dalam kasus menyambut tamu. Orang jawa biasanya setelah mempersilakan sang tamu duduk, lalu menyuguhkan makanan dan langsung menyuruh tamunya mencicipi. Nah kalo’ orang sunda, setelah menyuguhkan makanan, maka si tuan rumah akan meninggalkan ruang tamu dengan maksud mempersilakan tamunya mencicipi makanan yang disuguhkan.
Lalu, bagaimana kalau orang jawa tulen bertamu ke rumah orang sunda asli? Kira-kira begini.
Sang tamu (orang jawa) dipersilakan duduk, lalu si tuan rumah (orang sunda) menyuguhkan makanan yang enak-enak (maklum tamu dari jauh). After that, si tuan rumah –demi melihat sang tamu yang haus dan lapar– langsung meninggalkan tamunya dengan maksud supaya tamunya bisa mencicipi hidangannya. Lalu si tamu? Baliau ingin sekali mencicipi hidangan dari si tuan rumah, apalagi sebelum sampai ke rumah itu, dia harus nyasar dulu dan muter-muter cukup jauh mencari alamat si tuan rumah sehingga sang tamu berasa haus dan lapar. Tapi apa daya? Mana sopan makan tanpa dilihat oleh yang menyuguhkan? Bagi orang jawa sebelum dipersilakan, maka haram hukumnya memakan hidangan walaupun sudah ada di hadapannya.
Alhasil? Si tuan rumah hanya menunggu. Dia tidak mau kembali ke ruang tamu sampai tamunya memakan apa yang dia suguhkan. Lalu sang tamu sendiri? Menunggu sampai tuan rumahnya kembali ke ruang tamu agar dapat mencicipi hidangannya. So, what’s gonna happen in the end? you know better.
(kasus diatas tidak berlaku bagi Mahasiswa, apalagi anak kost…)
2. Bahasa
Ini yang paling sering bikin ane geleng-geleng kepala. Banyak kejadian aneh yang ane alami saat harus berinteraksi dengan bahasa sunda. Pernah suatu hari ane diajak jalan-jalan bareng murid-murid TPA-nya Bu Yati ke daerah kampung sawah, soreang. Disana murid-murid asik berenang dan bermain mobil balap (ATV). Nah disinilah kejanggalan terjadi. Saat murid-murid memasuki area kolam renang, langsunglah mereka excited dan lari kesana-kemari. Tiba-tiba salah satu orang tua murid berteriak “Hey…ulah lalarian, bisi soledad.”
Okay, sekilas mungkin terdengar biasa saja, hanya ucapan berbahasa sunda. Tapi bagi ane kalimat itu sangat ganjil untuk didengar. Kata ini “Hey…ulah lalarian, bisi…” ane ga ambil pusing. Tapi kata Soledad ini… ane ga terbiasa dengar kata ini diucapkan oleh orang sunda. Setahu ane, soledad itu adalah bahasa spanyol yang artinya solitude/loneliness. Jadi ketika telinga ane menangkap kalimat “Hey…ulah lalarian, bisi soledad.” Maka otak ane mengartikan kalimat itu menjadi “Hey…jangan lari-lari, nanti kesepian”. what a strange sentence. Ane jadi kebayang gimana nasib para olahragawan/wati yang menekuni cabang olahraga lari. Bisa-bisa mereka kesepian seumur hidup.
Karena ane penasaran, so ane tanya ke Teh lala, salah satu pengajar di TPA, apa sih arti soledad versi sunda. Dan Teh Lala menjawab kalau soledad in sundanese mean kepeleset/tergelincir/slip. Oh mine… its soooo far between soledad (spanish) and soledad (sundanese). Hmph…
Ada lagi…ada lagi. Suatu hari ketika ane baru sampai di kostan setelah pulang dari jalan-jalan, ibu kost mengagetkan ane dengan muncul secara tiba-tiba di pintu belakang rumahnya. Lalu si ibu kost bilang “ Neng, aliran…”. Sontak yang pertama kali ane lakukan adalah melihat ke arah selokan. Ana pikir maksud dari si Ibu kost berkata aliran adalah air yang mengalir terbuang sia-sia karena kran air di kamar mandi tidak ditutup. Karena itu ane langsung menuju kamar mandi untuk menutup kran air. Tapi ane tidak menemukan ada kran yang terbuka. Malah air di kamar mandi nyaris kosong dan ketika ane membuka kran air, tidak ada air yang keluar. Ane langsung menuju rumah ibu kost dan terjadilah percakapan sebagai berikut:
Ane : Ibu…, kran air ketutup kok. Ga ada air yang ngalir. Trus bak mandi juga kosong.
Ibu kost : Iya, neng. Aliran
Ane : Aliran apa sih Bu? Ga ada air yang ngalir kok.
Ibu kost : ieu, neng. Aliran teh mati lampu.
Ane : Ya Allaaaaahhhhh, si ibu. Bilang dong dari tadi kalau mati lampu. Ga usah pake istilah “aliran” segala.
Ya, itulah. Aneh tapi nyata. Bagaimana mungkin mati lampu bisa disebut aliran? Yang ada juga aliran listrik di putus sama PLN. 1.Hontou ni wakaranai.
3. Trend dan Mode
Well, Jawa Barat khususnya daerah Bandung dihuni oleh 2 macam penduduk yaitu penduduk asli (suku sunda) dan pendatang (campur-campur). Karena terjadi percampuran penduduk maka secara otomatis terjadi akulturasi kebudayaan juga, walaupun suku sunda masih dominan. Akulturasi budaya itu pun menghasilkan banyak produk yang salah satunya adalah trend dan mode.
Yups. Siapa sih yang ga’ tau kalau Bandung itu pusatnya fashion sampai-sampai mendapat julukan “paris van java”. Industri textil di daerah Bandung maju pesat, factory outlet, distro, dan boutique tersebar diseluruh titik yang potensial menghasilkan laba. Dan hampir seluruh pusat perbelanjaan menawarkan produk dengan harga yang sangat terjangkau sehingga trend ini bisa diikuti oleh seluruh kalangan. Maka jangan heran kalau anda mememui orang-orang dengan mode rambut dan style pakaian yang nyaris seragam di sepanjang jalan. Ane dan teman-teman menyebutnya trend sejuta umat.
Trend sejuta umat ini meliputi :
1. Model rambut dengan poni panjang yang disisir dari sisi paling kiri ke sisi paling kanan, atau sebaliknya, sehingga menutupi hampir setengah wajahnya. Trend poni sejuta umat ini anehnya diminati baik oleh wanita maupun pria. So, ga’ sulit kan untuk mengidentifikasi grup band atau artis asal bandung? Cari aja yang model rambutnya berponi sejuta umat. Ane ga perlu menyebut st12 sebagai contoh kan? Nanti 2. mba’ Yani marah lagi. Mhehehehe. Oya, kira-kira orang Bandung udah sempet mendaftarkan model rambut sejuta umat ini ke DepDikBudPar belum ya? Jangan-jangan nanti model rambut sejuta umat ini di klaim sama malaysia lagi. Kan gawat…!!
2. Barang lokal. Basically, ane salut sama orang Bandung. Walaupun mereka korban trend dan mode yang terus berganti, mereka tipe orang yang cinta produk dalam negeri. Ane jarang lihat orang Bandung yang kaya sekalipun menggunakan barang branded dan import. Mungkin ada sebagian, tapi ga’ banyak. Malahan distro dan factory outlet milik pengusaha lokal laris manis. That’s cool. Barang lokal ga’ kalah bersaing karena harganya yang relatif terjangkau dan desainnya yang super-super kreatif. Anda bisa mendapatkan pakaian yang dijamin cuma ada satu didunia karena memang hanya dibuat satu. Keren kan? Makanya, ga’ usah lah belanja barang import apalagi sampai harus ke luar negeri. Dateng aja ke Bandung, dijamin satu tahun gaji juga ga’ akan cukup memuaskan anda untuk bershopping-ria di sini. Inget!! “Paris van java”.
Dan masih banyak pengalaman dramatis yang ane alami yang berhubungan dengan kebiasaan dan keseharian orang sunda. Anyhow, kebudayaan sunda ini harus dijaga dan dilestarikan. Mari kita dukung pemerintah untuk memajukan dan mensejahterakan Jawa Barat pada umumnya dan Bandung pada khususnya. Teruskan kebiasaan yang baik dan buang yang buruk. Mungkin dengan menbuang kebiasaan buruk, kita akan terhindar dari bencana alam yang sekarang ini sedang menimpa kita.
Ana turut berduka atas bencana yang menimpa saudara-saudara di Tasik, cianjur, dan yang terakhir kemarin di Bogor. Semoga Allah menguatkan hati-hati kita dan mengganti apa yang Allah ambil dari kita dengan pengganti yang lebih baik. Amin.
Keterangan :
1. benar-benar ga’ ngerti
2. mba yani termasuk salah satu fans nya st12 (ups)
October 4, 2009 at 2:13 am |
WHUAAA… membuatku tertawa terpingkal2 hingga harus menahan sakit di perut…kyaaa…lol…lol
GANBATTE NE!
October 12, 2009 at 11:56 pm |
hahaha… pengamatan yang cermat
November 20, 2009 at 2:54 am |
Hahahaaa…
Kalau saya mah, dengar kata “soledad” ingatnya film2 telenovela.
Lalu langsung teringat “Maria Marcedes”, dkk.
Wah, jadi tambah kacau kalau saya yang dengar kata “bisi soledad…”!!!
^0^
November 20, 2009 at 3:47 pm |
parah loe ka!!! ditimpuk orang sunda tau rasa loe!!! hehehehehhe
isi blogmu selalu membuatqu tersenyum kawan….
teruslah menulis dan menghiburku….
karena aku sudah tak punya waktu untuk menulis blog ku sendiri